Penerapan IT Dilihat dari Perspektif Strategi

Studi Kasus eProc PT PLN (Persero)

IT yang diterapkan? Jelasakan?

Panduan Kebijakan Tata Kelola Teknologi Informasi BUMN, seluruh BUMN diwajibkan untuk melaksanakan Good Corporate Governance (GCG) dalam mengelola perusahaan pada semua jajarannya. Salah satu yang disoroti oleh manajemen perusahaan adalah proses pengadaan barang/jasa. Sekarang, PT PLN sudah mengimplementasikan eProc. eProc pada PLN ini, telah memberikan efektifitas dan efesiensi ketika PLN mengadakan proses pengadaan. Dulu sebelum diterapkannya eProc, PT PLN menggunakan proses pengadaan secara manual, ada bebeberapa akibat yang ditimbulkan diantranya: sulitnya informasi mengenai harga satuan khusus di internal PLN, perlakuan yang tidak sama kepada Calon Penyedia Barang/Jasa (CPBJ), dan lemahnya pertanggungjawaban terhadap proses pegadaan sehingga mengakibatkan resiko di kemudian hari.

Aplikasi eProc ini melingkupi Cataloging Information System (CIS), Supply Chain Management (SCM) System, Portal e-Proc PLN. Dari CIS, PLN mengetahui keadaan persedian barang. Pada kebutuhan SCM System merupakan perwujudan dari pengadaan material melalui bursa antar Unit PLN, pengadaan barang/jasa melalui e-bidding dan e-auction. Sedangkan sarana portal eProc merupakan usaha untuk memberikan hosting portal kepada pihak lain yang ingin menggunakan jasa layanan pengadaan barang/jasa, memberikan layanan promosi/iklan melalui portal eProc, dan menjadi pusat penyedia informasi.

Dari perspektif strategi yang mana?

Seperti yang diungkapkan Dirut PT PLN Fahmi Mochtar “e-PROCUREMEN PT.PLN (PERSERO) adalah salah satu program yang sangat membantu PLN, untuk mendukung implementasi GCG dalam mewujudkan transparansi, control, keadilan (fairness), penghematan biaya dan mempercepat proses pengadaan, juga mencegah korupsi dan pada gilirannya meningkatkan Citra Perusahaan”.  eProc sangat berkontribusi sekali terhadap penghematan biaya PLN. Menurut informasi yang saya peroleh bahwa PT PLN berhemat hingga 400M/tahun. Adanya transparansi, keadilan, percepatan proses pengadaan dan penghematan biaya menjadikan stakeholder puas terhadap kinerja perusahaan. Hal tersebut merupakan salah satu poin dari misi PLN, yaitu: “Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.”

Indikator keberhasilan?

Selama tahun 2005-2008, eProc mencatat saving sebesar 4,56% terhadap realisasi Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yakni Rp.249,40 Milyar dan pengehematan sebesar Rp.1,6 Trilyun dari Realisasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) terhadap Total RAB. Sedangkan total pengadaan yang telah direalisasikan melalui e-Proc selama 4 tahun tersebut adalah sebanyak 3352 pengadaan dari total rencana sebanyak 5071 pengadaan atau 66,1%. Jumlah realisasi pengadaan yang dilakukan melalui e-Proc terhadap rencana pengadaan cenderung meningkat dari tahun 2005 hingga tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan realisasi pengadaan sebesar 63.91% setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 terjadi penpenurunan pertumbuhan sebesar 5,89%. Sedangkan pada tahun 2008, e-Proc berhasil mencatat saving sebesar Rp.90,80 Milyar atau sebesar 4.91% berdasarkan Perolehan HPS terhadap Realisasi HPS dan sebesar Rp.457,9 Milyar atau sebesar 8,06% terhadap Realisasi RAB.

About irul

Kadang bisa serius amat. Tapi kebanyakan sih sukanya bercanda.

Posted on 24/03/2012, in manajemen. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: